
Apa sih ‘hätte’ itu dalam gambar tersebut?
Dalam bahasa Jerman disebut Konjunktiv II. Kapan menggunakan Konjunktiv II?
- jika kamu ingin mengekspresikan HARAPAN atau KEINGINAN
- Jika kamu ingin mengekspresikan IMAJINASI/ KHAYALAN yang tidak sesuai dengan kenyataan yang kamu alami.
- Jika kamu ingin memberikan SARAN atau ADVICE
- Jika kamu ingin membentuk kalimat yang lebih SOPAN / hoflichkeit.
Berikut adalah daftar konjugasi verben yang SANGAT SERING digunakan dengan bentuk Konjunktiv II

Lalu kapan kita bisa menggunakan ketiga Verben di atas?
1. wären
sein –> wären
Sama seperti aturan pemakaian sein, hanya beda ini dalam bentuk Konjunktiv II.
Bisa digunakan jika dalam kalimat terdapat Adjektiv dan menerangkan posisi suatu benda
z.B:
Ich wäre gerne größer. (Saya berharap bisa jadi lebih besar)
Ich wäre in Frankreich. (Saya berharap ada di prancis)
2. hätten
haben –> hätten
Kalau ada nomen + haben, sama seperti aturan pemakaian haben, hanya beda ini dalam bentuk Konjunktiv II
z.B:
Ich hätte ein Haus (Saya berharap punya rumah)
Ich hätte gerne viel Geld (Saya ingin punya uang banyak)
3. würden
werden–> würden
Kalau ada Verb selain haben/sein/Modalverb, strukturnya menjadi:
würden + Infinitiv
z.B:
Ich würde fliegen. (Saya terbang: khayalan, jadi pakai Konjunktiv II)
Er würde in Australien leben. (Dia berharap bisa tinggal di Australia)
4. Modalverben im Konjunktiv II
Selain ketiga kata kerja di atas, Konjunktiv II juga bisa dalam bentuk Modalverben. Yuk! Coba perhatikan perubahan bentuk Modalverben dalam Konjunktiv II di bawah ini!

Dari tabel di atas bisa dilihat perbahannya:
können –> könnten,
müssen –> müssten,
dürfen –> dürften,
wollen –> wollten,
sollen –> sollten,
möchten –> möchten
Lalu bagaimana struktur kalimatnya?
S + MV im Konjunktiv II + … + Verb infinitiv
Nahh sekarang yuk kita lihat contoh penggunaan Konjunktiv II:
1. Mengekspresikan Harapan atau keinginan (Wunsche)
Lebih sering dikombinasikan dengan kata gerne/lieber/am meisten
Beispiel:
Was würdest du heute gerne anziehen? (Kamu mau pakai baju apa hari ini?)
Ich hätte gerne ein Apfelschorle mit Eis. (Saya ingin soda apel dengan es).
2. Mengekpresikan khayalan yang tidak sesuai realita (irreale Bedingung)
Biasanya menggunakan Nebensatz: wenn dan atau menggunakan Modalpartikeln: bloß, nur, doch.
Beispiel:
Ich würde mir die ganze Welt ansehen. (Aku ingin melihat seluruh dunia – realita: saya tidak bisa berpergian)
Marino tut so, als wäre er noch 20. (Marino bertingkah laku seperti berumur 20 tahun – realita: Marino tidak berumur 20 tahun).
3. Membentuk kalimat yang lebih SOPAN (hoflichkeit)
Biasanya menggunakan:
Könnten / Würden Sie mir einen Gefallen tun und …
Wären Sie so freundlich / nett…
Würde es Ihnen etwas ausmache?
Beispiel:
Würdest du mir das Salz geben, bitte? (Bolehkah tolong berikan garam ke saya?)
Könntest du gerne Zelten gehen? (Bersediakah kamu pergi berkemah?)
4. Memberikan SARAN atau Advice (Ratschläge geben)
Biasanya menggunakan könnten atau sollten + Infinitiv
Beispiel:
Sie sollten wenig Kaffee trinken. (Anda seharusnya sedikit saja minum kopi)
Du könntest auch mit den Lehrer sprechen. (Kamu bisa berbicara dengan guru)
Mann sollte auch Freizeit plannen. (Orang-orang juga harusnya merencanakan waktu luangnya)
Konjunktiv II sering digunakan dalam Nebensatz biasanya menggunakan konektor “als ob“, “als wenn” , “als dass”
Konjunktiv II dalam anak kalimat (Nebensatz)
Rumus:
Situasi Presents (Gegenwart):
Konjunktiv II diletakkan di akhir kalimat:
Beispiel:
Du siehst aus, als ob du müde wärst.
Artinya adalah ‘Kamu terlihat seolah-olah kamu lelah’, padahal kenyataannya dia tidak lelah).
Situasi lampau (Vergangenheit):
Partizip II diikuti Konjunktiv II diletakkan di akhir kalimat
Beispiel:
Es scheint, als ob du gestern schlecht geschlafen hättest.
Artinya adalah ‘Kamu terlihat, seolah-olah kamu tidak tidur nyenyak kemarin’, padahal kenyataannya kemarin dia tertidur lelap.

0 Comments